Hubungi Kami 0812 1720 9001

Asahlah Akal dan Hati ( Rasa ) Anakmu dan Berilah Tantangan!

Dunia pendidikan kita terlalu sibuk menyuapi anak-anak dengan ilmu dan pengetahuan, tetapi kurang mengajarkan pentingnya budi pekerti dan hati (Rasa). Dunia pendidikan kita lebih mementingkan kognisi ketimbang akhlak susila. Kita ingin anak-anak kita pintar, tetapi kurang mendidik mereka agar berperilaku mulia.

Sobat. Seorang psikolog Stanford University, Carol Dweck dalam eksperimennya di Buku The New Psychology of Succes. Beliau menyatakan, “ Hadiah terpenting dan terindah dari orang tua untuk anak-anaknya adalah tantangan.” Jadi dari kecil saran Dweck, anak-anak harus dibiasakan dibesarkan dalam alam yang menantang, bukan asal gampang atau digampangkan. Pujian boleh untuk menyemangati, bukan membuatnya selalu mudah.

Sobat. Kita sudah sering membahas masalah kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosi. Ada satu lagi jenis kecerdasan yang tak kalah penting, yaitu kecerdasan spiritual. Bagaimana meningkatkan kecerdasan emosi dan spiritual berikut selengkapnya.

Kecerdasan spiritual atau SQ merupakan kecerdasan yang dapat menempatkan kehidupan individual kita dalam konteks yang lebih luas. Kecerdasan spiritual juga merupakan kecerdasan yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah makna dan nilai.

Kecerdasan spiritual perlu dilakukan sejak dini agar seorang anak dapat memiliki kepekaan batin dan jiwa terhadap diri sendiri maupun orang lain. Di samping itu dengan mengembangkan kecerdasan spiritual, seorang anak akan lebih mampu mengenali dirinya sendiri, seperti kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya. Dengan demikian anak akan mampu menutupi kekurangan dirinya dengan mengasah kelebihannya secara maksimal agar sukses di masa depan.

Berikut beberapa kiat menumbuhkan kecerdasan spiritual pada anak:
• Memancing kreativitas anak untuk bertanya, terutama pertanyaan-pertanyaan yang mendasar seperti pertanyaan mengenai Tuhan, terjadinya alam semesta, tentang keberadaan dirinya, cinta, dan sebagainya. Siapkan jawaban-jawaban yang bijaksana.

• Dengarkan mereka sehingga mereka merasa bebas mengekspresikan perasaan, khayalan, dan sudut pandangan mereka. Jadilah orang tua yang dapat dipercaya oleh mereka.

• Ajak anak terlibat dalam ritual atau aktivitas keagamaan atau spiritual, jelaskan maknanya.

• Jangan pernah bosan dan lelah membimbing mereka karena semua proses membutuhkan waktu. Dampingi dengan penuh kasih sayang.

Kecerdasan Emosi.

Sobat. Dahulu orang lebih mengandalkan sesuatu berdasarkan pada kecerdasan intelektual (IQ). Seiring dengan perkembangan zaman kondisi tersebut berubah dengan keberadaan EQ (Emotional Quotient). Dahulu banyak yang berpendapat bahwa orang yang memiliki IQ tinggi akan memberikan pengaruh sangat besar bagi peradaban dunia. Sekarang pernyataan tersebut dibantah dengan kenyataan yang menunjukkan bahwa IQ tinggi bukanlah jaminan seseorang agar dapat sukses, melainkan harus pula dengan dukungan EQ. Riset membuktikan bahwa seorang eksekutif atau professional yang memiliki EQ tinggi adalah orang yang mampu mengatasi konflik yang sedang dihadapinya.

Dalam berbagai situasi, EQ mempunyai pengaruh yang lebih besar dibandingkan dengan IQ, seperti dalam penetapan sebuah visi, cara untuk berkomitmen, dll. Pengembangan EQ dalam dunia pendidikan masih tergolong lemah. Semuanya lebih dialihkan pada kemampuan atau kecerdasan intelektual (IQ) semata. Padahal IQ hanyalah suatu “kemampuan dasar” yang cenderung terbatas pada keterampilan standar dalam melakukan suatu aktivitas.

Berbeda jika EQ diterapkan dalam pendidikan formal maupun nonformal, maka adanya dorongan untuk menjadi orang yang sukses bukan sesuatu yang sulit diraih. Goleman menerangkan dalam bukunya tentang keunggulan EQ dalam mencapai prestasi.Alhasil, dari teori tersebut banyak diciptakan orang-orang sukses, tidak hanya di negaranya, bahkan di seluruh dunia, seperti yang terjadi pada Bill Gates, orang terkaya di dunia.

Berdasarkan hasil survey di Amerika Serikat pada tahun 1918 tentang IQ ternyata ditemukan sebuah paradoks yang membahayakan. Sementara skor IQ anak-anak makin tinggi, kecerdasan emosi mereka justru menurun. Yang paling mengkhawatirkan adalah data hasil survey besar-besaran terhadap orang tua dan guru bahwa anak-anak generasi sekarang lebih sering mengalami masalah emosi bila dibandingkan dengan generasi terdahulunya. Ditemukan inti kemampuan pribadi dan social yang sama, yang terbukti kemudian menjadi inti utama keberhasilan, yaitu Kecerdasan Emosi.

Sobat. Apa yang dimaksud dengan kecerdasan emosi (EQ), yang dipercaya mempunyai peranan penting dalam usahanya mencapai suatu kesuksesan? Robert K.Cooper, Ph.D. menjawab bahwa “Kecerdasan Emosi adalah kemampuan merasakan, memahami, dan secara efektif menerapkan daya, serta kepekaan emosi sebagai sumber energi, informasi, koneksi, dan pengaruh yang manusiawi.”

Jadi, jelas sekali bahwa kecerdasan emosi (EQ) bersumber dari hati yang sebenarnya adalah kekuatan yang melebihi kemampuan dari intelektual (IQ) yang mampu mengarahkan manusia untuk mencapai apa yang menjadi keinginannya.

Satu hal yang harus diperhatikan dari EQ ini, yaitu jangan hanya menjadikannya sebagai suatu ilmu saja tanpa adanya realisasi yang nyata. Artinya,terkadang kita tahu tentang hal yang baik dan buruk. Disinilah pentingnya realisasi atau pelatihan dari apa yang sudah dipelajari.

Karyawan cenderung bersemangat untuk mempraktikkannya secara nyata. Namun kondisi tersebut tidak berlangsung lama karena mereka kembali pada keadaan sebelumnya dengan alasan tertentu. Sehingga apa yang pernah dipelajari pada waktu pelatihan seakan tidak pernah terjadi.

Di samping itu, melatih kecerdasan emosi tidak cukup hanya dengan membaca buku atau dipraktikkan selama beberapa kali saja, tetapi harus dilakukan secara berkesinambungan sampai akhirnya membentuk suatu karakter bagi manusia itu sendiri. Seperti yang diungkapkan oleh Stephen R. Covey, yaitu ”Taburlah gagasan, petiklah perbuatan, taburlah perbuatan, petiklah kebiasaan, taburlah kebiasaan, petiklah karakter, taburlah karakter, petiklah nasib.”

Sobat. Hidup yang indah adalah hidup dalam alam sebenarnya, yaitu alam yang penuh tantangan. Inilah esensi perekonomian abad ke-21: bergejolak, ketidakpastian, dan membuat manusia menghadapi ambiguitas. Namun, dalam kondisi seperti itulah, sesungguhnya manusia berpikir. Ketika kita berpikir, tampaklah pintu-pintu baru terbuka saat pintu-pintu hafalan kita tertutup.

Sobat. Inilah yang mengakibatkan banyak sekali orang pintar sulit menghadapi kesulitan. Oleh karena itu. Pesan Carol Dweck, dari apa yang saya renungi dengan kalimat yang cukup sederhana saja,” Orang tua, jangan cepat-cepat merampas kesulitan yang dihadapi anak-anakmu. Sebaliknya berilah mereka kesempatan untuk menghadapi tantangan dan kesulitan.”

Salam Dahsyat dan Luar Biasa !

Spiritual motivator – DR.N.Faqih Syarif H, M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual dan Character Building. Sekretaris Komnas Pendidikan Jatim, Majelis Kyai PP Al-Ihsan Baron, Nganjuk, Jatim

 

 

 

 

 

 

( Spiritual Motivator – DR. N. Faqih Syarif H, M.Si Penulis Buku Gizi Spiritual dan The power of Spirituality. Majelis Kyai PP Al-Ihsan Baron Nganjuk. Sekretaris Komnas Pendidikan Jawa Timur )

1 Comment

  • by Chairul Posted August 8, 2018 9:52 am

    Allah Yaa Karim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Telp/SMS/WA 0812 1720 9001