Hubungi Kami 0812 1720 9001

Apa Itu Kaya? Kenapa Harus Kaya?

Hadits Nabi Shallallahu‘alaihi Wasallam yang artinya “Janganlah kamu merasa bahwa rizkimu datangnya terlambat. Karena sesunguhnya, tidaklah seorang hamba akan meninggal hingga telah datang kepadanya rizki terakhir (yang telah ditentukan) untuknya. Maka, tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rizki, yaitu dengan mengambil yang halal dan meninggalkan yang haram”. [HR Abdur-Razaq, Ibnu Hibban dan Al-Hakim]

Sobat, Pertanyaannya adalah manakah yang lebih mulia menjadi manusia miskin tapi sabar atau menjadi manusia kaya tapi syukur? Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah mengenai manakah yang lebih utama antara orang kaya yang pandai bersyukur atau orang miskin yang selalu bersabar. Dan jawaban beliau “Yang paling afdhol (utama) diantara keduanya adalah yang paling bertaqwa kepada Allah SWT. Jika orang kaya dan orang miskin tadi sama dalam taqwa, maka berarti mereka sama derajatnya.” (Badai’ul Fawaidh, 3/683).

Begitu pula dengan Syaikh Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah rahimahullah mengatakan, “Menurut para peneliti dan ahli ilmu bahwa keutamaan diantara orang kaya dan orang miskin tidak kembali kepada letak miskin atau pun kayanya. Namun semuanya kembali pada amalan, keadaan, dan hakikatnya. Keutamaan diantara keduanya di sisi Allah dilihat dari ketakwan, hakikat iman, bukan dilihat dari miskin atau kayanya. Karena Allah Ta’ala berfirman dalam QS Al-hujurat 13 :

“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” ( QS. (49) : 13 )

Sobat, Kaya itu variatif. Banyak domain kaya dalam kehidupan, diantaranya adalah :
1. Kaya harta, berarti banyak harta tidak hanya untuk diri dan keluarga tetapi juga untuk lingkungan dan masyarakat sekitar semuanya dalam kerangka Iman dan Taqwa menjadi Ibadah dan amal sholeh.

2. Kaya hati, berarti lapang jiwa, siap menerima kenyataan dan selalu bersyukur tidak iri dan tidak dengki orang lain mendapat rezeki yang lebih banyak.

3. Kaya Ide, berarti memiliki ide yang banyak untuk kesejahteraan diri dan kemaslahatan umat.

4. Kaya karya, berarti memiliki karya yang banyak baik untuk dirinya maupun untuk masyarakat.

5. Kaya cita-cita, berarti memiliki cita-cita yang banyak.

Sobat, Kaya hati berarti pandai bersyukur. Sedikit atau banyak tetap bersyukur. Anda tidak menggerutu karena jalan buntu dan tidak mencaci karena dikhianati. Anda tidak murung karena dikurung dan tidak sedih meskipun pedih. Semuanya anda terima dengan suka cita.

Bisa jadi anda tidak kaya harta tetapi anda kaya ide, maka anda bisa sumbangsihkan ide anda itu untuk kepentingan sosial. Anda tidak kaya harta tetapi anda kaya karya yang bisa bermanfaat bagi lingkungan sosial anda. Bukankah Rasul pernah bersabda, “ Sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi sesama manusia.”

Itulah perlunya kaya. Meskipun belum kaya harta tetapi anda kaya cita-cita. Suatu saat akan menjadi nyata. Setidaknya belum kaya harta tetapi sudah kaya cita-cita. Jangan sampai hidup merana, cita-cita tak punya, hidup tak kaya, miskin cita-cita. Apa kata dunia?

Adapun kaya bersyukur dalam pandangan Islam adalah orang yang dengan kekayaannya tersebut semakin mendekatkan dirinya kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Indikasinya antara lain:
1. Menyadari dengan sepenuhnya bahwa kekayaan yang dimilikinya adalah fadhilah/ keutamaan dari Allah Subhanahu Wata’ala, bukan semata kepintaran dan hasil kerja kerasnya. (Lihat QS. Al-Qashas ayat 78)

2. Meyakini bahwa harta yang dimiliki hanya merupakan amanah. Oleh karena itu, ketika pemilik yang sesungguhnya meminta sebagian, tidak merasa berat untuk mengeluarkannya.

3. Kekayaan tersebut tidak menghalangi mereka untuk bisa shalat berjama’ah di masjid tepat pada waktunya.

4. Dengan semakin bergelimangannya harta, semakin menjadikannya takut kepada Allah Subhanahu wata’ala dan hari pembalasan.

5. Kekayaan yang semakin menjadikannya ingat kepada Allah Subhanahu Wata’ala sang pemberi nikmat sehingga bertambah tingkat kesyukurannya.

6. Tidak menjadikannya sombong dan merendahkan manusia lainnya.
Dengan kata lain, kekayaan yang dimilikinya ia pergunakan di jalan Allah SWT (Al Baqarah ayat 3) dan hartanya sama sekali tidak mampu memalingkan keimanannya dari tugas dan fungsi manusia sesungguhnya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wata’ala dalam QS. An-Nur ayat 37.

Sobat, apa pun kondisi kita tetap kita harus beriman dan bertakwa kepada Allah SWT artinya dengan kondisi apapun, jika orang islam mampu menjalani kehidupannya dengan didasari ketaqwaan dengan indikasi iman yang benar, aqidah tauhid yang benar, ibadah yang benar, dan bermuamalah dengan cara yang benar, maka kemiskinan dan kekayaan sama-sama akan mengantarkan umat Islam ke surganya Allah Subhanahu Wata’ala.

Sebaliknya jika ternyata dengan dua kondisi tersebut menjadi penghalang dari taat kepada Allah SWT dan RasulNya, menjerumuskan ke dalam perkara-perkara yang haram, menggelincirkannya dari aqidah tauhid, menjadikannya malas untuk menambah ilmu agama, maka sejatinya kemiskinan dan kekayaan yang ada merupakan bentuk siksaan yang disegerakan oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Na’udzubillah

 

 

 

 

 

 

Salam Dahsyat dan Luar Biasa !
( Spiritual Motivator – DR.N.Faqih Syarif H, M.Si Penulis Buku Gizi Spiritual, Anggota Majelis Kyai Pesantren Al-Ihsan Baron Nganjuk, Sekretaris Komnas Pendidikan Jatim )

1 Comment

  • by Ash shofi Posted July 1, 2018 2:43 pm

    Semoga kita memang harus bisa Kaya dengan disertai dengan Ketakwaan Yang Hakiki kepada Allah SWT, Aamiin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Telp/SMS/WA 0812 1720 9001